Cupang Raksasa, The Giant Betta: Betta Anabatoides

Cupang Raksasa, The Giant Betta: Betta Anabatoides

Betta-Fish-Picture-13 Giant betta ( Betta anabatoides) pada awalnya dibudidayakan di Thailand pada awal tahun 2000 dan mulai diekspor tahun 2003, termasuk Indonesia. Disebut giant  karena ukurannya lebih besar daripada jenis cupang lainnya, yaitu 10—12 cm, bahkan bisa mencapai 18 cm. Giant Betta merupakan hasil seleksi yang ketat jenis cupang yang memiliki sifat suka makan dan pertumbuhan cepat yaitu jenis cupang alam dan plakat. Setelah melalui serangkaian pemuliaan, sekaran telah dihasilkan cupang raksasa yang agresif, memiliki bentuk ekor plakat, halfmoon dan serit. Warna dasar tubuhnya pun beragam antara lain merah, hijau merah, maskot, hijau solid dan red gold.
Cupang Alam, The Wild Betta: The Original Taste

Cupang Alam, The Wild Betta: The Original Taste

Betta-Fish-Picture-16 Cupang jenis ini merupakan tangkapan dari sawah atau rawa dan pada awalnya diperkenalkan oleh bangsa Thai sebagai ikan aduan. Jenis-jenis cupang alam yang sering di adu adalah betta imbellis, betta splendens dan betta smaragdina. Di Indonesia sendiri terdapat diperairan pulai Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan kepulauan lainnya. Warna yang dimiliki cupang alam kurang menarik yang teridiri dari warna cokelat kusam, merah atau hijau. Pada sisi badannya terdapat garis horizontal yang dimulai dari mata hingga sirip ekor.

Sifat Biologis Ikan Cupang

Sifat Biologis Ikan Cupang

Betta-Fish-Picture-31 Di kalangan masyarakat umum, cupang lebih dikenal sebagai ikan yang sangat agresif dan suka berkelahi satu sama lainnya. Jenis kelamin jantan tampak lebih menarik dibandingkan betina karena mempunyai warna yang lebih cerah dengan sirip-sirip yang lebih lebar dan panjang. Cupang jantan menggunakan warna warni tubuhnya untuk menarik lawan jenisnya agar mau melakukan pemijahan.

Cupang, seperti kebanyakan ikan lainnya, memiliki lendir yang dapat membantu menghambat gangguan penyakit seperti jamur dan bakteri yang menyerang tubuhnya. Seperti halnya ikan lele dan betok, cupang mempunyai alat pernapasan tambahan berupa labirin untuk mengambil oksigen langsung dari udara sehingga ikan ini dapat bertahan hidup pada kondisi air dengan kandungan oksigen terbatas. Sampai sekarang, cupang telah tersebar ke berbagai seluruh penjuru tanah air seperti pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

Lingkungan Hidup: Ikan Cupang, Betta Fish Environment

Lingkungan Hidup: Ikan Cupang, Betta Fish Environment

Betta-Fish-Picture-111 Cupang terkenal sebagai ikan yang dapat bertahan hidup dengan kandungan oksigen yang sangat terbatas, yaitu di bawah ambang normal (3 mg/l), dan di tempat yang sempit karena ikan ini dapat menyerap oksigen melalui rongga labirin di atas insang. Karena itu, budidaya cupang tidak memerlukan aerator sebagai alat bantu sirkulasi udara. Cupang dapat hidup dengan baik pada air dengan pH 6,2—7,5, kesadahan air 7—10 derajat HD, dan temperatur air 21—31 derajat Celcius.

Sumber Air Untuk Ikan Cupang

Sumber Air Untuk Ikan Cupang

Betta-Fish-Picture-12 Sumber air untuk budidaya cupang dapat berasal dari air tanah, air sungai, atau air PAM. Masing-masing sumber air tersebut memerlukan perlakuan yang berbeda sebelum digunakan.

Air tanah atau air sumur harus diendapkan lebih dahulu minimal 12 jam agar kandungan oksigen terlarutnya memadai. Gas-gas seperti H2S (belerang), karbon dioksida (CO2), mineral dan koloid akan menguap melalui pengendapan ini. Pengendapan air akan meningkatkan pH yang belum optimal.

Air sungai perlu disaring dengan pasir, ijuk, dan zeolit lalu ditampung dalam bak khusus dan diendapkan satu malam sebelum digunakan, sedangkan air PAM harus diendapkan selama satu malam dan diaerasi minimal 24 jam karena air PAM sering mengandung klorin. Untuk menurunkan kandungan klorin, anda dapat menggunakan antiklorin seperti kaliumtiosulfat atau potasiumtioposfat (K2S2O3) dengan dosis satu kristal setiap 30 liter air atau sekitar 3 ppm.

Pondus Hydrogeni (pH): Manfaat Daun Ketapang?

Pondus Hydrogeni (pH): Manfaat Daun Ketapang?

Betta-Fish-Picture-24 Derajat keasaman (pH) adalah ukuran kandungan hidrogen dalam air. Nilai pH adalah antara 1—14. Air dengan angka pH 1 bersifat sangat asam, sementara pH 7 berarti netral. Air dengan pH 14 berarti sangat basa dan terasa pahit seperti sabun.

Derajat keasaman yang ideal untuk budidaya cupang adalah 6,2—7,5. Cupang tidak dapat hidup di air dengan pH 1—4 (terlalu rendah) atau 11—14 (terlalu tinggi). Jika pH tidak sesuai dengan pH ideal yang dibutuhkan cupang, cupang akan tidak bernafsu makan, berenang tidak stabil, sisiknya menjadi kasar, tidak mau berkembang biak atau bertelur, tubuhnya bantet, bahkan mati. Angkah pH sangat dipengaruhi oleh kandunagn CO2 dalam air. CO2 ini merupakan hasil respirasi ikan dan kadarnya berbeda antara siang dan malam. Selain itu, faktor sisa pakan, sekreasi ikan, dan penggantian air juga mempengaruhi pH.

Untuk mengukur derajat keasaman air, gunakan kertas lakmus atau pH meter. Jika pH air terlalu asam, tuang kapur pertanian atau kapaur bordo dengan dosis secukupnya ke dalam air. Jika pH terlalu basa, yaitu lebih besar dari 7, masukkan daun ketapang (Palaqium clarkeanum) ke dalam wadah air.

Oksigen Terlarut Dalam Air Ikan Cupang

Oksigen Terlarut Dalam Air Ikan Cupang

Betta-Fish-Picture-211 Oksigen terlarut untuk ikan pada umumnya lebih besar dari 3 g/l, tetapi cupang dapat bertahan hidup di bawah kandungan oksigen terlarut minimal ini. Ikan yang kekurangan oksigen terlihat megap-megap dan akan sering berenang di permukaan untuk mengambil oksigen. Gunakan aerator untuk mengatasi rendahnya kadar oksigen terlarut dalam air.

Kutu Air: Makanan Favourite Ikan Cupang, Murah dan Bergizi Tinggi

Kutu Air: Makanan Favourite Ikan Cupang, Murah dan Bergizi Tinggi

Lyna-Tran-10 Kutu air sebagai pakan alami cupang adah udang renik jenis cladocera. Cladocera yang paling banyak ditemukan di perairan umum adalah daphnia dan moina. Umumnya kutu air banyak terdapat pada air tergenang yang kotor dan bercampur sisa buangan limbah rumah tangga. Kutu air juga banyak dijumpai di kolam, situ, danau, rawa, dan sawah yang airnya cenderung tidak mengalir. Hewan ini tampak bergerak dalam kumpulan berwarna merah atau merah kekuningan.

Untuk mengambil kutu air, cukup gunakan serokan yang mempunyai mata jaring halus. Kutu ari yang baru diserok hendaknya tidak langsung diberkan kepada cupang peliharaan karena dikawatirkan perairan tempat kutu air tersebut berasal mengandung bibit penyakit. Karena itu, kutu air tersebut harus dibersihkan beberapa kali. Cara membersihkannya adalah dengan menyiapkan ember yang diisi air yang sudah lama diendapkan. Masukkan kutu air ke dalam wadah ini. Di atas permukaan wadah biasanya akan muncul kotoran-kotoran berupa sampah kecil. Ambil kotoran ini dengan serokan kasar agar kutu air tidak ikut terangkat. Selanjutnya, ambil kembali kutu air dengan serokan atau tuangkan ke dalam serokan halus untuk di bilas sekali lagi. Setelah itu baru berikan kutu air untuk pakan ikan.

Bila anda tidak sempat mencari kutu air, Anda dapat membelinya di toko ikan hias atau memesannya kepada orang yang biasa mencara kutu air. Agar kutu air bertahan lama, tempatkanlah kutu air dalam wadah yang cukup besar berisi air yang sudah diendapkan dan gunakan aerator untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air.

Kutu air cocok untuk burayak cupang sampai cupang dewasa. Khusus untuk ukuran buraya, kutu air harus di saring dahulu dengan serokan yang mempunya mata jaring lebih halus. Hal ini perlu dilakukan karena mulut burayak belum bisa menyantap kutu air berukuran besar. Pemberiannya pun sedikit demi sedikit, misalnya sekali sehari 2—3 sendok makan untuk burayak di kolam 1x1 m2. Yang perlu diperhatikan, pakan kutu air ini jangan sampai tersisa di kolam Kutu air yang tersisa dan mati dapat mengotori air dan menimbulkan penyakit.

Ketersediaan kutu air di perairan umum tidak menentu. Pada saat populasi kutu air berlimpah, kita dapat mengambil sesuka hati. Kutu air yang berlebih dapat disimpan di freezer lemari es sebagai cadangan bila kutu air diperairan umum tidak tersedia.

Kutu air dapat dikultur di kolam milik sendiri. Semakin luas kolam, semakin banyak kutu air yang akan dihasilkan.

Mengkultur di wadah kecil seperti ember akan menghasilkan sangat sedikit kutu air dan biasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan anakan cupang yang kita miliki.

Cara Mengkultur Kutu air adalah sebagai berikut:

1. Keringkan kolan untuk membunuh bibit penyakit dan ikan liar serta hama seperti kodok.

2. Tebarkan pupuk kandang dari kotoran ayam ke dalam kolam yang telah dikeringkan tersebut. Misalnya, untuk kolam seluas 10m2, kotoran ayam yang diperlukan adlah 10kg ditambah 0,15 kg TSP, 0,15 kg Urea dan 0,15 kg kapur tohor agar kolam tidak terlalu asam.

3. Selanjutnya isi kolam dengan air hingga setinggi 50 cm.

4. Pada hari ketiga, masukkan benih kutu air sekitar satu kantung plastik 1/4 kg.

5. Pada hari ketuhuh kutu air sudah dapat dipanen. Panen sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari karena pada siang hari kutu air berada di bawah permukaan untuk menghindari terik matahari, sehingga sulit diserok.

6. Kutu air yang dikultur dapat bertahan sampai dua bulan. Tetapi seminggu sekali Anda harus menambahkan pupuk kandang yang dimasukkan dalam karung yang dilubangi dan diapungkan di koam. Pembudidayaan kutu air tidak memerlukan aerator untuk aerasi udara.

Jentik Nyamuk / Cuk: Sumber Protein Ikan Cupang

Jentik Nyamuk / Cuk: Sumber Protein Ikan Cupang

Betta-Fish-Picture-19 Jentik nyamuk mempunyai kadar protein tinggi bagi cupang. Sebelum digunakan sebagai pakan ikan, jentik-jentik harus dibersihkan dahulu untuk menghindari bibit penyakit. Cara membersihkannya seperti membersihkan kutu air, yaitu memasukkan jentik ke dalam wadah berisi air yang sudah diendapkan—dan sebaiknya dicampur sedikit methylene blue untuk membunuh bibit penyakit. Saring kotoran yang mengambang di permukaan air, selanjutnya serok jentik nyamuk untuk di bilas sekali lagi.

Jentik nyamuk berukuran besar cocok untuk ikan cupang berumur empat bulan ke atas yang telah atau akan kawin karena dapat mempercepat proses kematangan telur. Sedangkan cupang yang berumur 2—4 bulan diberi jentik berukuran kecil. Jentik diberikan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari, sedikit demi sedikit agar tidak berlebihan.

Jentik nyamuk sulit diperoleh di dataran rendah pada saat musim hujan serta di daerah dataran tinggi. Pada umumnya pembudidayaan cupang langsung mengambil jentik nyamuk dari perairan umum dan jarang yang mengkulturnya. Meskipun demikian, jentik nyamuki dapat di kultur ddengan cara mempersiapkan tempat untuk memikat induk nyamuk betina agar mau bertelur. Media dan bahan yang diperlukan sama dengan kultur kutu air. Jentik nyamuk ini tidak menyebabkan penyakit demam berdarah atau malaria yang lebih menyukai air bersih. Lagipula, jentik nyamuk tidak sempat menjadi nyamuk karena saat masih jentik sudah di ambil untuk paka ikan.

Cacing Sutera: Memacu Pertumbuhan Anak Ikan Cupang?

Cacing Sutera: Memacu Pertumbuhan Anak Ikan Cupang?

Betta-Fish-Picture-25 Cacing ini seperti benang berwarna merah dan banyak ditemukan di dasar sungai atau selokan yang airnya mengalir. Cacing diambil dan dimasukkan dalam ember dan bila sudah banyak diaduk-aduk agaqr cacing mengumpul dan terlepas dari sisa-sisa lumpur, lalu dibersihkan dengan air. Cacing sutera juga dapat diperoleh di tempat penampungan cacing, langsung dari pencari cacing, atau di toko ikan hias.

Cacing sutera mampu memacu pertumbuhan anak ikan dengan cepat karena kandungan protein dan lemaknya tinggi. Tetapi untuk budidaya cupang, apalagi untuk cupang aduan, cacing jarang diberikan. Cupang adu yang mengkonsumsi cacing sutera cenderung cepat gemuk, sisiknya mudah lepas, serta gerakannya menjadi lamban. Selain itu, air menjadi cepat kotor sehingga para pembudidaya harus rajin membersihkan bak dan mengganti air. Cupang betina yang sedang bunting juga sebaiknya tidak diberi pakan cacing sutera karena bisa menghambat keluarnya telur.

Cacing sutera dapat dimanfaatkan ketika tidak tersedia pakan alami yang lain. Untuk menghindari bibit penyakit yang dibawa oleh cacing seperti protozoa, bakteri yang dapat menyerang insang, rendam cacing lebih dulu ke dalam larutan antibiotik seperti tetracycline dengan dosis 1 gr/10 liter air selama 12 jam. Setelah itu cacing dipelihara selama kurang lebih 2 hari baru kemudian diberikan kepada cupang. Agar cacing bertahan hidup lama, siapkan wadah yang dialiri air supaya kandungan oksigen mencukupi.

Cacing sutera dapat dibiakkan pada kolam yang bentuknya memanjang atau pada saluran air. Caranya adalah:

* Dasar bak dilapisi lumpur halus atau sampah yang sudah hampir membusuk setebal 5 cm.

* Masukkan pupuk kandang yang diaduk dengan lumpur sebanyak 50 gr/m3.

* Aliri kolam denga air yang mengalir perlahan-lahan melalui pompa kecil.

* Masukkan bibit cacing sutera yang disebar merata.

* Sebaiknya bagian atas kolam diberi penutup untuk mencegah sinar matahari yang berlebihan.

* Dalam waktu dua hari cacing akan terlihat mulai berkembang biak.

Artemia Salina: Tersedia Di Toko Ikan Hias

Artemia Salina: Tersedia Di Toko Ikan Hias

Betta-Fish-Picture-18 Artemia salina yang dijual di toko ikan hias dalam kemasan kaleng merupakan udang renik tingka rendah yang hidup di air laut. Cara penggunaannya sangat praktis, hanya dengan menetaskan telurnya di air asin yang bersalinitas 22 ppt (gr/lt). Suhu yang diperlukan untuk proses penetasan adalah 25—30 derajat C. Kemudian air diaerasi selama 24—48 jam hingga artemia menetas dan siap diberikan kepada burayak. Ukuran anak artemia yang baru menetas sekitar 0,4 mm dengan berat sekitar 15 mikrogram. Pakan alami ini sulit dikultur. Selain tekhnologi pengkuluturannya rumit, habitat aslinya adalah air laut sehingga secara ekonomis tidak efisien bagi pembudidaya.

Pakan Buatan: Alternatif Dikala Pakan Alami Sulit

Pakan Buatan: Alternatif Dikala Pakan Alami Sulit

Betta-Fish-Picture-211 Pakan buatan merupakan pakan alternatif bila pakan alami sulit didapatkan. Pakan buatan dalam bentuk pelet pada dasarnya terbuat dari bahan alami seperti kutu air atau cacing sutera, tepung darah, tepung ikan, dedak, ubi kayu, tepung tapioka, tepund daun dan bahan lain yan gmengandung protein serta karbohidrat. Pelet yang baik untuk pertumbuhan cupang memiliki nilai protein 20—30%.

Pemberian pelet dilakukan dua kali sehari dan sebaiknya langsung habis. Pakan yang tersisa hanya akan memperkeruh air dan menambah gas-gas yang tidak diinginkan jikia tidak segera dihabiskan.

Media Budidaya Ikan Cupang

Media Budidaya Ikan Cupang

Betta-Fish-Picture-5 Usaha budidaya ikan ini sangat menjanjikan sebagai mata pencaharian utama atau usaha sambilan. Budidaya cupang tergolong sederhana dan tidak memerlukan peralatan rumit dan lahan yang luas, cukup area sekitar 5 meter persegi atau bahkan kurang, sehingg bisa dilakukan di rumah dengan lahan pekarangan terbatas.

Media yang digunakan terdiri dari media pemijahan dan media pembesaran. Media pemijahan dapat berupa baskom, toples, aquarium berukuran 20 x 20 x 30 cm, paso, ember plastik, atau kaleng  bekas cat berdiameter lebih kurang 20 cm. Sementara itu, media pembesaran dapat berbentuk kolam atau bak semen berukuran 100 x 200 x 40 cm, bak terpal atau plastik yang ukuranny disesuaikan dengan lahan dan dana yang ada, aserta akuarium berukuran 100 x 40 x 50 cm.

Akuarium biasanya digunakan untuk memelihara burayak yang baru menetas sampai umur tiga minggu karena suhu akuarium relatif stabil. Sementara bak semen lebih banyak digunakan untuk proses pembesaran burayak berumur tiga minggu sampai ukuran siap dipindah ke wadah soliter karena ketebalan dapat mempertahankan suhu panas atau dingin agak lama. Pada umur ini cupang sudah dapat menyesuaikan diri dengna perubahan suhu air. Alternatif lain adalah bak fiberglass, namun harganya tergolong mahal bagi pemula.

Setelah dua atau tiga kali pendederan, anda perlu menyortir anakan yang tumbuh lebih besar dan memasukkannya ke wadah soliter seperti bekas botol air mineral atau akuarium kecil. Cupang yang ukurannya lebih besar dipisahkan lebih dari untuk menjaga agar bagian-bagian siripnya tidak rusak.

Indukan Yang Tepat Untuk Ikan Cupang

Indukan Yang Tepat Untuk Ikan Cupang

1a300x600biasa1 Pemijahan cupang memerlukan indukan jantan dan betina yan gsehat. Indukan jantan dan betina dapat dibedakan dari sirip dan warna tubuhnya. Cupang jantan memiliki jari-jari sirip anal, punggung dan ekor yang lebih panjang dibandingkan selaput yang menutupinya dan erwarna lebih gelap di punggungnya sedangkan cupang betina memiliki jari-jari sirip pendek dan warnanya tampak kurang menarik.

Indukan cupang dapat berasal dari penangkaran sendiri atau membeli dari pembudidaya yang sudah terkenal. Yang pertma kali perlu diperhatikan adlah kesehatan cupang. CUpang yan gsehat ditandai denga nwarn yuan gcerah, gerakan yang lncah dan seluruh sirip yang selalu mengembang ketika didkatkan pda cupang lain. Pembudidaya pemula sebaiknya memilih cupang yang mempunyai warna-warna dasar seperti merah, hijau, biru atau kuning polos.

Induk jantan dan betina yang akan dipijahkan sebaiknya tidak berasal dari satu keturunan. Pemijahan yang berasal dari satu keturunan (inbreeding) akan menghasilkan keturunan yang cacat, pertumbuhannya lambat, dan mengalami kelainan bentuk sirip atau tubuh. Tujuh puluh lima persen warna anakan pada umumnya diturunkan dari indukan jantan, sedangkan 75% kualitas fisiknya diturunkan dari indukan betina.

Jenis cupang yang dipilih ergantung selera pembudidaya. Sekedar untuk pertimbangan, pemeliharaan cupang serit tergolong lebih sulit dibandingkan halfmoon atau plakat karena sirip-sirip serit rentan patah jika ikan tidak diperlakukan ekstra hati-hati. Tidak dianjurkan mengawinkan antar jenis cupang karena akan merusak genetika keturunannya.

Cupang yang dipilih untuk indukan sebaiknya yang telah berumur 5—6  bulan dengan ukuran minimal 5 cm. Pada usia ini telur induk betina lebih matang sehingga tingkat keberhasiln hidup burayak lebih tinggi. Pada pemijahan pertama, satu ekor induk betina dapat menghasilkan 300—500 ekor anakan yang 80% di antaranya berkelamin jantan. Induk betina dapat dipijahkan kembali setelah dirawat selama 2—3 minggu. Tetapi pada umumnya pembudidaya tidak menggunakan induk betina yang sama untuk dipijahkan kedua kali dan seterusnya karena jumlah anakan jantan yang dihasilkan semakin berkurang.

Sebelum dipijahkan, indukan cupang harus dirawat lebih dahulu. Indukan jantan dan betina ditempatkan secara terpisah dala botol atau toples atau akuarium soliter selama seminggu. Berikan makanan yang banyak mengandung protein seperti jentik nyamuk. Jangan memberi makan yang banyak mengandung lemak seperti cacing sutera karena akan mengurangi jumlah telur yang dihasilkan. Frekuensi pemberian makanan adlah dua kali sehari kira-kira 5—10 ekor jentik nyamuk.

Proses Pemijahan Pada Ikan Cupang

Proses Pemijahan Pada Ikan Cupang

Betta-Fish-Picture-15 Cupang biasanya memijah pada pagi sampai siang hari setelah sehari sebelumnya dimasukkan kedalam wadah pemijahan. Adapun langkah-langkah melaksanakan pemijahan cupang adalah sebagai berikut:

1. Siapkan wadah pemijahan berupa baskom atau akuarium kecil yang sebelumnya sudah dibersihkan dan dikeringkan.

2. Isi air ke dalam wadah pemijahan sampai setinggi 15—20 cm.

3. Masukkan induk jantan ke dalam wadah lebih dahulu.

4. Masukkan indukan betina pada sore hari ke dalam wadah transparan seperti botol air mineral 1,5 liter yang dipotong dua bagian atau botol selai dan letakkan wadah itu di tengah-tengah wadah yang berisi induk jantan. Kehadiran induk betina akan membuat sang jantan birahi dan membangun buih sarang kurang lebih 1—2 jam kemudian.

5. Setelah 4—5 jam, masukkan ikan betina ke dalam wadah ikan jantan. Jika keduanya berjodoh, proses pemijahan segera berlangsung. Cupang pada umumnya memijah pada pagi atau siang hari.

6. Pemijahan ditandai dengan induk jantan melilitkan tubuhnya ke induk betina. Kemudian induk betina mengeluarkan telur yang diikuti dengan keluarnya sperma induk jantan yang segera membuahi sel telur. Cupang jantan menangkap telur-telur yang keluar itu dengan mulutnya kemudian meletakkannya di sarang busa yang dipersiapkannya. Proses pemijahan berlangusng sekitar 3 jam.

7. Karena induk betina punya kecenderungan mamakan telur-telurnya, setelah proses pemijahan dan pemindahan telur selesai, pindahkan induk betina dan biarkan induk jantan dalam wadah karena sang jantan inilah yang akan merawat anak-anaknya. Induk jantan hampir tidak pernah memakan telur atau burayak. Kalaupun hal ini terjadi, itu disebabkan oleh kurangnya pakan yang tersedia untuk sang induk jantan.

8. Telur akan menetas kurang lebih dalam waktu 24 jam dan larva cupang masih menyimpan makanan berupa kuning telur (yolk sack) sampai umum 5—7 hari sehingga sampai umur ini larva cupang belum perlu diberi  makan.

Cupang Halfmoon: Bisa Jadi Fullmoon?

Cupang Halfmoon: Bisa Jadi Fullmoon?

Betta-Fish-Picture-13 Bukaan ekor cupang jenis ini bisa sampai 180 derajat sehingga dari samping tampak seperti setengah lingkaran. Tidak hanya sirip, ekor, sirip punggung dan sirip perutnya pun lebar. Cupang halfmoon berasal dari kawasan Asia Tenggara, kemudian dikembangkan pada tahun 1982 oleh pembudidaya ikan Amerika Serikat yang pada saat itu menghasilkan cupang dengan bukaan ekor sudah mendekati 180 derajat. Di Indonesia cupang ini mulai dikenal pertama kalinya pada tahun 2000.

Cupang Serit (Crown Tail Betta): Cupang Mahal Nan Cantik Jelita

Cupang Serit (Crown Tail Betta): Cupang Mahal Nan Cantik Jelita

Betta-Fish-Picture-11 Disebut cupang serit karena perpanjangan tulang sirip-sirip ekor, punggung dan sirip perut memanjang dan bila terbuka menyerupai serit. Panjang tubuh ikan dari ujung mulut sampai ujung ekor sekitar 6,5 cm.

Cupang serit bisa dibilang hasil kreasi hobiis cupang Indonesia. Setelah beberapa kali perkawinan dari persilangan indukan cupang impr Thailand oleh hobbis di Jakarta akhirnya terciptalah cupang serit yang pertama.

Pada persilangan selanjutnya, cupang serit mengalami perkembangan pada siripnya terutama pada sirip ekor. Serit pada ekor ini bisa mencapai 16 buah atau bahkan lebih. Selanjutnya muncul kategor serit silang (king crown tail).

Disebut serit silang karena serit ekor silang-menyilang dan melengkung mirip mahkota. Untuk mendapatkan keturunan serit silang, indukan yang digunakan adalah indukan yang mempunyai serit silang, baik jantan maupun betina. Pada dasarnya, yang paling utama adalah induk betina karena induk betina ini membawa gen yang lebih kuat.

Perkawinana indukan ini belum tentu langsung menghasilkan serit silang. Baru pada turunan kedua keturunan serit silang muncul, itupun hanya sekitar 25% dari keseluruhan anakan. Karena serit silang tergolong sulit diproduksi secara kontinyu, harganya melonjak hingga jutaan rupiah per ekor.

Cupang Plakat, The Siamese Fighter Betta: Ganas, Tapi Tetap Cantik

Cupang Plakat, The Siamese Fighter Betta: Ganas, Tapi Tetap Cantik

Betta-Fish-Picture-8 Cupang plakat di Indonesia didatangkan langsung dari Thailand sekitar tahun 2000 merupakan cupang ekor pendek yang berasal dari persilangan antara cupang aduan dan cupang alam. Dalam bahasa Thai, plakad berarti cupang laga atau aduan, namun di Indonesia cupang tersebut tidak untuk di adu.

Berbeda dari ikan cupang hias lainnya, cupang plakat memiliki ekor pendek. Walaupun merupakan keturunan cupang adu, cupang plakat tidak menonjolkan kekuatan fisik, warna, dan bentuk siripnya. Jadi, mesikipun cupang plakat bisa di adu, para hobiis pada umumnya memeliharanya untuk menikmati keindahan sirip dan warna-warni tubuhnya.

Cupang Cagak, The Double Tail Betta: Bernilai Tinggi

Cupang Cagak, The Double Tail Betta: Bernilai Tinggi

Betta-Fish-Picture-26 Cupang cagak atau double tail dikembangkan di Thailand. Disebut double tail karena cupang ini mempunyai sirip ekor yang terbelah di bagian tengah sehingga seolah-olah memiliki dua sirip ekor. Cupang cagak yang bernilai tinggi adalah yang sirip punggung, sirip perut, dan sirip ekornya tampak menyatu tanpa celah ketika dalam keadaan mengembang penuh setengah lingkaran.

Para pemulia cupang di Indonesia sudah mulai mengembangkan jenis ini, meskipun cagak yang dianggap ideal masih tergolong langka karena tidak setiap perkawinan sesama double tail maupun double tail dengan single tail menghasilkan anakan berekor cagak yang sempuna.

The Crown Tail, A Very Expensive Beautiful Betta Fish

The Crown Tail, A Very Expensive Beautiful Betta Fish

Crowntail betta fish or simply known as betta is a popular species of freshwater fish. It is also known as the Siamese fighting fish or the Betta spenders. The ancestors of this fish are believed to be native to the rice paddies of Thailand and Cambodia. These colorful fish are very much in demand because of their beautiful structure, moreover they are easy to breed. (Source: buzzle[dot]com)