Kutu Air: Makanan Favourite Ikan Cupang, Murah dan Bergizi Tinggi
Kutu air sebagai pakan alami cupang adah udang renik jenis cladocera. Cladocera yang paling banyak ditemukan di perairan umum adalah daphnia dan moina. Umumnya kutu air banyak terdapat pada air tergenang yang kotor dan bercampur sisa buangan limbah rumah tangga. Kutu air juga banyak dijumpai di kolam, situ, danau, rawa, dan sawah yang airnya cenderung tidak mengalir. Hewan ini tampak bergerak dalam kumpulan berwarna merah atau merah kekuningan.
Untuk mengambil kutu air, cukup gunakan serokan yang mempunyai mata jaring halus. Kutu ari yang baru diserok hendaknya tidak langsung diberkan kepada cupang peliharaan karena dikawatirkan perairan tempat kutu air tersebut berasal mengandung bibit penyakit. Karena itu, kutu air tersebut harus dibersihkan beberapa kali. Cara membersihkannya adalah dengan menyiapkan ember yang diisi air yang sudah lama diendapkan. Masukkan kutu air ke dalam wadah ini. Di atas permukaan wadah biasanya akan muncul kotoran-kotoran berupa sampah kecil. Ambil kotoran ini dengan serokan kasar agar kutu air tidak ikut terangkat. Selanjutnya, ambil kembali kutu air dengan serokan atau tuangkan ke dalam serokan halus untuk di bilas sekali lagi. Setelah itu baru berikan kutu air untuk pakan ikan.
Bila anda tidak sempat mencari kutu air, Anda dapat membelinya di toko ikan hias atau memesannya kepada orang yang biasa mencara kutu air. Agar kutu air bertahan lama, tempatkanlah kutu air dalam wadah yang cukup besar berisi air yang sudah diendapkan dan gunakan aerator untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air.
Kutu air cocok untuk burayak cupang sampai cupang dewasa. Khusus untuk ukuran buraya, kutu air harus di saring dahulu dengan serokan yang mempunya mata jaring lebih halus. Hal ini perlu dilakukan karena mulut burayak belum bisa menyantap kutu air berukuran besar. Pemberiannya pun sedikit demi sedikit, misalnya sekali sehari 2—3 sendok makan untuk burayak di kolam 1x1 m2. Yang perlu diperhatikan, pakan kutu air ini jangan sampai tersisa di kolam Kutu air yang tersisa dan mati dapat mengotori air dan menimbulkan penyakit.
Ketersediaan kutu air di perairan umum tidak menentu. Pada saat populasi kutu air berlimpah, kita dapat mengambil sesuka hati. Kutu air yang berlebih dapat disimpan di freezer lemari es sebagai cadangan bila kutu air diperairan umum tidak tersedia.
Kutu air dapat dikultur di kolam milik sendiri. Semakin luas kolam, semakin banyak kutu air yang akan dihasilkan.
Mengkultur di wadah kecil seperti ember akan menghasilkan sangat sedikit kutu air dan biasanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan anakan cupang yang kita miliki.
Cara Mengkultur Kutu air adalah sebagai berikut:
1. Keringkan kolan untuk membunuh bibit penyakit dan ikan liar serta hama seperti kodok.
2. Tebarkan pupuk kandang dari kotoran ayam ke dalam kolam yang telah dikeringkan tersebut. Misalnya, untuk kolam seluas 10m2, kotoran ayam yang diperlukan adlah 10kg ditambah 0,15 kg TSP, 0,15 kg Urea dan 0,15 kg kapur tohor agar kolam tidak terlalu asam.
3. Selanjutnya isi kolam dengan air hingga setinggi 50 cm.
4. Pada hari ketiga, masukkan benih kutu air sekitar satu kantung plastik 1/4 kg.
5. Pada hari ketuhuh kutu air sudah dapat dipanen. Panen sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari karena pada siang hari kutu air berada di bawah permukaan untuk menghindari terik matahari, sehingga sulit diserok.
6. Kutu air yang dikultur dapat bertahan sampai dua bulan. Tetapi seminggu sekali Anda harus menambahkan pupuk kandang yang dimasukkan dalam karung yang dilubangi dan diapungkan di koam. Pembudidayaan kutu air tidak memerlukan aerator untuk aerasi udara.
Jentik Nyamuk / Cuk: Sumber Protein Ikan Cupang
Jentik nyamuk mempunyai kadar protein tinggi bagi cupang. Sebelum digunakan sebagai pakan ikan, jentik-jentik harus dibersihkan dahulu untuk menghindari bibit penyakit. Cara membersihkannya seperti membersihkan kutu air, yaitu memasukkan jentik ke dalam wadah berisi air yang sudah diendapkan—dan sebaiknya dicampur sedikit methylene blue untuk membunuh bibit penyakit. Saring kotoran yang mengambang di permukaan air, selanjutnya serok jentik nyamuk untuk di bilas sekali lagi.
Jentik nyamuk berukuran besar cocok untuk ikan cupang berumur empat bulan ke atas yang telah atau akan kawin karena dapat mempercepat proses kematangan telur. Sedangkan cupang yang berumur 2—4 bulan diberi jentik berukuran kecil. Jentik diberikan dua kali sehari, yaitu pagi dan sore hari, sedikit demi sedikit agar tidak berlebihan.
Jentik nyamuk sulit diperoleh di dataran rendah pada saat musim hujan serta di daerah dataran tinggi. Pada umumnya pembudidayaan cupang langsung mengambil jentik nyamuk dari perairan umum dan jarang yang mengkulturnya. Meskipun demikian, jentik nyamuki dapat di kultur ddengan cara mempersiapkan tempat untuk memikat induk nyamuk betina agar mau bertelur. Media dan bahan yang diperlukan sama dengan kultur kutu air. Jentik nyamuk ini tidak menyebabkan penyakit demam berdarah atau malaria yang lebih menyukai air bersih. Lagipula, jentik nyamuk tidak sempat menjadi nyamuk karena saat masih jentik sudah di ambil untuk paka ikan.
Cacing Sutera: Memacu Pertumbuhan Anak Ikan Cupang?
Cacing ini seperti benang berwarna merah dan banyak ditemukan di dasar sungai atau selokan yang airnya mengalir. Cacing diambil dan dimasukkan dalam ember dan bila sudah banyak diaduk-aduk agaqr cacing mengumpul dan terlepas dari sisa-sisa lumpur, lalu dibersihkan dengan air. Cacing sutera juga dapat diperoleh di tempat penampungan cacing, langsung dari pencari cacing, atau di toko ikan hias.
Cacing sutera mampu memacu pertumbuhan anak ikan dengan cepat karena kandungan protein dan lemaknya tinggi. Tetapi untuk budidaya cupang, apalagi untuk cupang aduan, cacing jarang diberikan. Cupang adu yang mengkonsumsi cacing sutera cenderung cepat gemuk, sisiknya mudah lepas, serta gerakannya menjadi lamban. Selain itu, air menjadi cepat kotor sehingga para pembudidaya harus rajin membersihkan bak dan mengganti air. Cupang betina yang sedang bunting juga sebaiknya tidak diberi pakan cacing sutera karena bisa menghambat keluarnya telur.
Cacing sutera dapat dimanfaatkan ketika tidak tersedia pakan alami yang lain. Untuk menghindari bibit penyakit yang dibawa oleh cacing seperti protozoa, bakteri yang dapat menyerang insang, rendam cacing lebih dulu ke dalam larutan antibiotik seperti tetracycline dengan dosis 1 gr/10 liter air selama 12 jam. Setelah itu cacing dipelihara selama kurang lebih 2 hari baru kemudian diberikan kepada cupang. Agar cacing bertahan hidup lama, siapkan wadah yang dialiri air supaya kandungan oksigen mencukupi.
Cacing sutera dapat dibiakkan pada kolam yang bentuknya memanjang atau pada saluran air. Caranya adalah:
* Dasar bak dilapisi lumpur halus atau sampah yang sudah hampir membusuk setebal 5 cm.
* Masukkan pupuk kandang yang diaduk dengan lumpur sebanyak 50 gr/m3.
* Aliri kolam denga air yang mengalir perlahan-lahan melalui pompa kecil.
* Masukkan bibit cacing sutera yang disebar merata.
* Sebaiknya bagian atas kolam diberi penutup untuk mencegah sinar matahari yang berlebihan.
* Dalam waktu dua hari cacing akan terlihat mulai berkembang biak.
Artemia Salina: Tersedia Di Toko Ikan Hias
Artemia salina yang dijual di toko ikan hias dalam kemasan kaleng merupakan udang renik tingka rendah yang hidup di air laut. Cara penggunaannya sangat praktis, hanya dengan menetaskan telurnya di air asin yang bersalinitas 22 ppt (gr/lt). Suhu yang diperlukan untuk proses penetasan adalah 25—30 derajat C. Kemudian air diaerasi selama 24—48 jam hingga artemia menetas dan siap diberikan kepada burayak. Ukuran anak artemia yang baru menetas sekitar 0,4 mm dengan berat sekitar 15 mikrogram. Pakan alami ini sulit dikultur. Selain tekhnologi pengkuluturannya rumit, habitat aslinya adalah air laut sehingga secara ekonomis tidak efisien bagi pembudidaya.
Pakan Buatan: Alternatif Dikala Pakan Alami Sulit
Pakan buatan merupakan pakan alternatif bila pakan alami sulit didapatkan. Pakan buatan dalam bentuk pelet pada dasarnya terbuat dari bahan alami seperti kutu air atau cacing sutera, tepung darah, tepung ikan, dedak, ubi kayu, tepung tapioka, tepund daun dan bahan lain yan gmengandung protein serta karbohidrat. Pelet yang baik untuk pertumbuhan cupang memiliki nilai protein 20—30%.
Pemberian pelet dilakukan dua kali sehari dan sebaiknya langsung habis. Pakan yang tersisa hanya akan memperkeruh air dan menambah gas-gas yang tidak diinginkan jikia tidak segera dihabiskan.